Pendidikan indonesia sering kali dikategorikan rendah jika dibandingkan oleh negara negara yang lain. Karena sistem pendidikan indonesia masih berantakan saat dijalani, tidak sesuai dengan kondisi anak anak di dunia pendidikan hingga memberatkan siswa / mahasiswa yang menjalankan pendidikan tersebut, dalam sistem pendidikan di Indonesia peserta didik harus mengikuti seluruh pelajaran yang harus ditempuh walaupun tidak sesuai dengan keinginan dan kemampuannya dan sistem perkembangan pendidikan di indonesia yang terus berubah ubah dari zaman ke zaman seperti Kurikulum Rentjana Pelajaran 1947, Kurikulum Rentjana Pelajaran Terurai 1952, Kurikulum Rentjana Pendidikan 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum Pendidikan 1975, Kurikulum Pendidikan 1984, Kurikulum 1994 dengan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, hingga ke kurikulum yang dijalankan sekarang ini yaitu, Kurikulum 2013.   hal itu juga sebab dari tidak berkembang dan tidak majunya pendidikan di Indonesia yang bisa terlihat dari angka Programme for International Student Assessment (PISA), yang mana PISA di tahun 2018 membuktikan kalau rata-rata kemampuan membaca anak usia 15 tahun di Indonesia berada di peringkat 77 dari 77 negara.

Kemajuan Pendidikan di Luar Negeri

1. India: Bintang Akademik

Dapatkah Anda membayangkan anak-anak Anda tergabung dalam tim yang berlaga dalam pertandingan tebak kata, bukan sepak bola atau tenis?

Begitulah yang terjadi di India. Pertandingan elokuensi, catur, dan tentu saja, tebak kata, menarik ratusan penonton untuk menyaksikan, menggambarkan penekanan negara itu pada pemikiran kreatif. Sejak usia muda, para murid didorong untuk mengikuti kegiatan  ekstrakurikuler yang menitikberatkan kepada kemampuan akademik daripada fisik.

2. China: Jam Sekolah yang Panjang

Di Amerika Serikat, jam sekolah rata-rata adalah enam setengah jam per hari. Namun, murid-murid prasekolah di China saja bisa belajar selama 8 jam per hari, dan begitu berusia 6 tahun, anak-anak menghabiskan beberapa jam lagi untuk mengerjakan PR. “Orang tua di negara ini akan melakukan apa saja untuk memastikan anak tunggal mereka sukses dan masuk ke universitas top di masyarakat yang sangat kompertitif ini,” kata Stephanie Giambruno, seorang produser TV asal Amerika Serikat, dan mama dari anak berusia 4 tahun, yang tinggal di Beijing selama empat tahun terakhir.

3. Jepang: Keteraturan di Kelas

Yang mengejutkan, orang Jepang menemukan bahwa jumlah murid yang besar dalam satu kelas (sekitar 28 orang di sekolah dasar, dibandingkan 23 di Amerika Serikat) malah membuat pengajaran berlangsung efektif: Saat seorang guru mengajar di kelas yang lebih besar, maka rekan-rekan guru yang lain bisa menghabiskan waktu mereka dengan berkolaborasi, membuat perencanaan pengajaran, dan melakukan tutoring satu per satu sebanyak mungkin. “Kelas-kelas di negara itu lebih terstruktur daripada di Amerika Serikat, dan guru memiliki kendali penuh,” kata Verna Kimura, konsultan pendidikan yang tinggal dan mengajar di Jepang selama lebih dari dua dekade. “Dan anak-anak berkompetisi pada setiap jenjang, dimulai dengan bejuang untuk masuk ke TK favorit.”  Orang Jepang percaya bahwa kebiasaan belajar yang baik di usia muda akan membangun pola yang akan terus diterapkan oleh anak-anak saat beranjak dewasa. Di usia 6 atau 7 tahun, para murid diajarkan kemapuan mengikuti ujian yang spesifik, seperti cara menggunakan proses eliminasi untuk menemukan jawaban yang benar untuk soal
pilihan ganda. “Pendekatan itu mungkin tampak intens, tetapi atmosfer yang tercipta akan membantu membangun daya juang dan tanggung jawab,” kata Kimura.

4. Kanada: Peralihan yang Lancar

Katie York bersyukur ada program unik untuk anak prasekolah di Provinsi Ontario. Saat hendak menyekolahkan putrinya, Gemma, kini berusia 6 tahun, ia memiliki empat alternatif sistem sekolah yang dibiayai publik, sehingga gratis, di kotanya, Toronto: bahasa Inggris, agama Katolik Inggris, Francophone, dan Katorik Prancis. Para orang tua di Ontario pun dapat memasukkan anak-anak mereka di TK junior (JK) di usia 3, tahun; mereka berbagi kelas dengan murid yang berusia 4 dan 5 tahun (dikenal sebagai TK senior atau SK). Menjadi sukarelawan di kelas, yang didorong, tetapi tidak diwajibkan, memberikan York informasi tentang bagaimana pendekatan multi usia itu bisa berhasil. Misalnya, SK dapat mempunyai kemampuan praliterasi satu per satu data hk dengan sesi bersama seorang guru atau relawan murid dari kelas yang lebih tinggi. Sementara itu, JK akan mengerjakan proyek seni, yang berfokus kepada topik yang sama. “Sungguh menakjubkan melihat semua itu cocok, dan kemampuan Gemma pun meningkat di anatara JK dan SK,” ungkap York. Orang tua perlu menerima kurikulum detail dan rencana belajar, sehingga mereka dapat melengkapi pendidikan anak-anak mereka di rumah. https://www.urbanjunglelasertag.com/

5. Selandia Baru: Membagi Kisah Mereka

Anda mungkin ragu, kapan sebaiknya anak-anak Anda mulai menggunakan internet. Namun, di Selandia Baru, anak-anak justru didorong untuk mengunggah karya mereka di dunia maya sejak usia dini. “Para murid mulai menggunakan teknologi sejak usia 5 tahun, menggambar dengan program grafik sederhana, lantas mendiktekan keterangannya kepada para guru,” kata Sarah McPherson, Ed. D., kepala departemen teknologi instruksional di New York Institute of Technology, Old Westbury, New York, Amerika Serikat, yang belum lama ini berkunjung ke sekolah-sekolah di Selandia Baru.